Membacalah, Meski Ia (Seakan) Tak Membawamu Ke mana-mana

2016-12-26

Tahun ini, saya berhasil menamatkan 44 buku (sampai saat tulisan ini ditulis). Mungkin jumlah ini belum seberapa bila dibandingkan dengan rekan-rekan yang setahunnya bisa membaca ratusan buku. Akan tetapi, bila dibandingkan dengan tahun lalu, saat target membaca saya gagal total karena satu dan lain hal, pencapaian tahun ini ehm, bolehlah sedikit dirayakan. Saya ingin mengapresiasi diri sendiri, secara tidak berlebihan tentunya, karena tahun ini telah mencoba keluar dari zona nyaman.

Mungkin tidak ada definisi mutlak untuk zona nyaman dalam membaca. Setiap orang punya zonanya sendiri-sendiri. Bagi saya, zona nyaman itu adalah buku berbahasa Indonesia, baik dalam naskah aslinya maupun terjemahan, sedapat mungkin fiksi, tidak terlalu tebal, dan memiliki cerita yang realistis tetapi tidak terlalu rumit. Topik persahabatan dan keluarga adalah favorit saya. Kawinkan seluruh kriteria itu dengan ketersediaan uang, toko buku, dan waktu untuk membaca, maka hampir bisa dipastikan perjalanan membaca saya akan berlangsung mulus dalam arti harfiah.

Bagaimana pun, perjalanan membaca saya di awal tahun 2016 tidaklah sesederhana itu. Dengan penghasilan sendiri dan anggaran yang saya sisihkan khusus untuk membeli buku, tetapi tanpa kehadiran toko buku yang cukup lengkap di tempat tinggal saya, perlahan membuat frustrasi juga. Belum lagi kesibukan yang volumenya merambat naik. Saya bingung. Saya harus membaca, tetapi membaca apa? Apakah saya biarkan saja tantangan membaca tahun ini kandas sekali lagi seperti tahun lalu?

Syukurlah saya bertemu dengan orang-orang yang mengenalkan saya dengan buku-buku bagus. Pertama, Ching yang memberikan rekomendasi kepada saya melalui buku-buku preloved yang dijualnya. Kemudian Bang Bara yang rajin mengulas buku, entah itu di Twitter maupun blog. Perjalanan saya pun tidak jadi terhenti. Namun kecepatannya lambat sekali. Stagnan. Entah di mana salahnya. Di saat bersamaan, keingintahuan saya dengan penulis-penulis dunia gara-gara manga dan anime yang saya ikuti, nyaris membuat saya senewen karena oh, sungguh mereka terlihat keren dengan visualisasi di anime itu, tetapi dari mana saya harus memulainya? Lagipula, sebagian besar karya mereka tergolong klasik, yang pastilah ditulis dengan bahasa yang rumit. Saya pun menangguhkan rencana untuk mulai membaca karya-karya mereka.

Lalu, suatu hari, saya menemukan tulisan ini di laman WordPress reader saya. Setelah membacanya, saya tersadar bahwa membaca karya berbahasa Inggris jangan dianggap rumit. Baca saja dulu, mengerti atau tidak biar diurus nanti. Saya seperti mendapatkan suntikan energi (terima kasih kepada Arip) untuk mulai menjelajah negeri-negeri asing melalui tulisan. Maka saya mulai dengan Memories karya Lang Leav yang saya peroleh dari seorang teman. Ternyata membaca dalam bahasa Inggris tidak semenjemukan yang saya kira. Selanjutnya, saya mengobrak-abrik koleksi ebook yang ada di Goodreads dan mengunduh beberapa buku yang membuat saya penasaran karena penulisnya. Sebut saja H.G. Wells, Robert Louis Stevenson, Mark Twain, Oscar Wilde, dan lain-lain. Tidak hanya itu, saya juga mencoba aplikasi Kobo, Qbaca, dan belakangan iJak dan Scoop pun saya jajal. Kesemuanya untuk bisa mendapatkan beragam ebook secara legal dan praktis dengan harga yang terjangkau jika tidak gratis.

Mulai mendapatkan kepercayaan diri sebagai seorang pembaca, saya pun mulai mengikuti akun resmi Books for Life di LINE. Akun ini salah satu dari sekian banyak akun yang menumbuhkan semangat membaca, tidak hanya dengan motivasi verbal dan visual, tetapi juga berbagi ebook gratis kepada pengikutnya dengan syarat tertentu. Koleksi saya pun bertambah, pun khasanah membaca saya. Buku-buku seperti Of Mice and Men, Mosquitoland, dan beberapa judul lain saya peroleh dari akun tersebut.

Setelah memiliki koleksi ebook, saya pun merindukan sensasi membaca buku yang sebenarnya. Berbekal resensi buku yang tersebar di internet, saya memesan Pengakuan dan Ruang Inap No. 6 karya Anton Chekhov, Rumah Kertas, Monster Kepala Seribu, dan Aib dan Martabat dari Marjin Kiri, serta Don Quixote karya Miguel de Cervantes. Saat buku-buku itu akhirnya sampai, rasanya senang sekali, meski belum semuanya bisa saya tuntaskan. Tidak seperti membaca dengan gawai yang mengharuskan mata untuk beristirahat setiap beberapa saat, membaca buku rasanya lebih santai dan nikmat. Tanpa terasa, saya pun berhasil melampaui target membaca saya tahun ini (36 buku) dan menuntaskan 44. Sama sekali tidak terbayangkan oleh saya, jika saya flashback ke awal tahun 2016.

Nah, saya telah menceritakan perjalanan saya secara kronologis. Kini, saatnya saya membagikan apa saja yang telah saya peroleh selama berjalan sejauh ini.

2016-12-26-1

Beberapa penulis kini tidak hanya saya kenal namanya, tetapi juga karyanya. Genre klasik yang dulunya mati-matian saya hindari, kini justru menarik perhatian saya. Penulis-penulis dari Indonesia dan Jepang biasanya menjadi pertimbangan saya saat mencari sebuah karya untuk dibaca, tetapi kini saya juga mulai mengenal penulis dari Inggris, Irlandia, Korea Selatan, Turki, Jerman, Austria, Rusia, Perancis, Amerika Serikat, Norwegia, bahkan Amerika Selatan. Dari beberapa penulis yang tahun ini saya kenali karyanya, favorit saya adalah Oscar Wilde dengan argumentasi cerdas dalam karya-karyanya serta Anton Chekhov yang mahir membingkai realitas hidup dengan nuansa sindiran yang kental. Selain karya-karya dari kedua penulis tersebut, saya menyukai A Separate Peace karya John Knowles dan Mosquitoland karya David Arnold. Kedua buku itu menghanyutkan saya saat membacanya (bahkan sampai membuat saya menangis) dan membuat saya limbung untuk beberapa saat setelah menuntaskannya. Bahkan, setelah membaca A Separate Peace , saya menolak untuk membaca buku lain karena saya masih ingin merasakan sensasi yang membuat saya limbung itu barang beberapa hari. Ha, mungkin kali ini saya terdengar berlebihan.

Membacalah, meski ia (seakan) tak membawamu ke mana-mana. Dengan kalimat itu, saya memberi judul untuk tulisan ini dan dengannya pula saya akan menutupnya. Saya ingin menyemangati diri saya dengan kalimat tersebut. Setelah mengenal beberapa penulis, beberapa karya, rasanya saya masih belum ke mana-mana, masih di tempat yang sama. Belum bisa dikatakan sebagai pembaca andal yang wawasannya begitu luas hingga tercermin dalam tulisan-tulisannya yang begitu kaya. Sebagai narablog buku pun saya masih tanggung. Menulis resensi masih alakadar dan sesempatnya pula. Namun, saya akan terus membaca untuk memperluas wawasan saya sedikit demi sedikit. Siapa tahu suatu saat nanti, membaca benar-benar membawa saya ke mana pun yang saya suka. Yah, siapa tahu. Doakan saja.

Advertisements

Published by

Ami

Ex-student. Reads, writes, and watches. Want to be a professional lecturer and writer, in shaa Allah.

One thought on “Membacalah, Meski Ia (Seakan) Tak Membawamu Ke mana-mana”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s